“Eh, di jurusan itu belajarnya apa?”
Pertanyaan itu muncul berkali-kali saat kami berkumpul dengan SkulChamps di IPB. Kami bertemu mahasiswa dari berbagai jurusan: Silvikultur, Proteksi Tanaman, Meteorologi Terapan, Ilmu Keluarga dan Konsumen, sampai Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Ada juga yang kuliah di Kedokteran dan Sekolah Vokasi. Teman-teman Vokasi bahkan menyempatkan datang dari jauh untuk ikut reuni.
Awalnya kami ingin tahu bagaimana kabar mereka setelah masuk kampus. Apakah kuliahnya sesuai bayangan waktu SMA? Apa yang sebenarnya mereka pelajari? Tetapi setiap jawaban justru membuka pertanyaan baru. Beberapa jurusan yang sebelumnya hanya kami kenal namanya menjadi jauh lebih menarik setelah mendengar ceritanya langsung dari orang yang menjalaninya.
Memilih jurusan ternyata lebih dari memilih nama
Saat masih SMA, mudah untuk tertarik pada sebuah jurusan karena namanya terdengar keren atau karena banyak orang ingin masuk ke sana. Baru setelah berbicara dengan mahasiswa, kita mulai melihat kehidupan di balik nama itu: apa yang dipelajari, persoalan apa yang mereka hadapi, dan hal apa yang membuat mereka betah menekuninya.
Di IPB, kami merasakan itu berulang kali. Obrolan tentang satu jurusan bisa membuat kami penasaran pada jurusan lain yang sebelumnya tak terpikirkan. Rasanya seperti membuka pintu demi pintu di kampus yang sama.
Kalau kamu masih menyusun pilihan kuliah, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Aku bisa masuk jurusan apa?” Coba tambahkan, “Aku ingin belajar tentang apa selama beberapa tahun ke depan?” Cari tahu mata kuliahnya. Dengarkan cerita mahasiswanya. Tanyakan bagian yang paling mereka nikmati dan bagian yang paling menantang.
Kamu mungkin akan semakin yakin dengan pilihan awalmu. Bisa juga kamu menemukan pilihan yang selama ini terlewat.
Kami datang untuk bertanya, lalu ikut ditanya
SkulChamps yang kami temui ramai dan penuh celetukan. Percakapan hampir tidak sempat sepi. Di tengah cerita tentang kampus, mereka balik bertanya kepada kami: bagaimana Skuling dimulai, kenapa kami membangunnya, dan apa yang ingin kami lakukan berikutnya.
Pertanyaan itu membuat reuni terasa berbeda. Dulu, kami bertemu mereka saat mereka sedang mempersiapkan diri masuk kuliah. Kini mereka sudah menjadi mahasiswa, punya pengalaman sendiri, dan penasaran dengan perjalanan orang-orang yang pernah menemani masa persiapan mereka.
Kami datang untuk mendengar cerita mereka. Ternyata, kami juga pulang sambil mengingat kembali alasan Skuling dimulai: agar lebih banyak siswa punya teman belajar dan kesempatan untuk mengejar kampus yang mereka inginkan.
Kampus yang luas, kemungkinan yang juga luas
Berjalan di IPB Dramaga memberi gambaran lain tentang kehidupan mereka sehari-hari. Kami melewati jalan yang dipenuhi pohon, melihat kebun, lahan percobaan, dan berbagai fasilitas tempat mahasiswa belajar. Di sekitar Koin IPB, kami bahkan melihat merak. Kampusnya begitu luas sampai kami sempat berpikir: kalau kuliah di sini, hafal jalan mungkin jadi kemampuan pertama yang harus dikuasai!
Namun, yang paling kami ingat tetap orang-orangnya. Mereka datang dari jurusan yang berbeda, membawa cerita yang berbeda, lalu duduk bersama dan saling ingin tahu. Melihat mereka, kami teringat bahwa ketika mengejar kampus impian, kita sering membayangkan hari pengumuman kelulusan. Padahal setelah hari itu, ada begitu banyak hal baru yang menunggu untuk dipelajari.
Kalau IPB adalah kampus tujuanmu, luangkan waktu untuk mengenalnya lebih dekat. Cari jurusan yang membuatmu penasaran, tanyakan kehidupan kuliahnya kepada mahasiswa, lalu mulai siapkan belajarmu dari sekarang. Kamu tidak harus mengetahui seluruh perjalananmu hari ini. Cukup temukan alasan yang membuatmu ingin memulainya.
Siapa tahu, saat kami kembali ke IPB, giliran kamu yang menjelaskan jurusanmu dengan antusias—dan membuat calon mahasiswa lain berkata, “Eh, ternyata menarik juga, ya!”
SkulChamps, janji ya ketemu di IPB? 🌿







