Setelah berkunjung ke berbagai kampus, akhirnya kami sampai di Yogyakarta.
Buat Skuling, Jogja bukan sekadar kota dalam daftar perjalanan. Di sinilah Skuling lahir. Kak Eldo, salah satu pendiri Skuling, pernah kuliah di UGM. Banyak anggota tim yang kini membangun Skuling setiap hari juga punya ikatan dengan kota ini. Jadi, sebelum pertemuan dimulai pun, kami sudah merasa seperti sedang pulang.
Lalu kami tiba di UGM dan bertemu SkulChamps yang sekarang kuliah di sana. Mereka datang dari berbagai fakultas, angkatan, dan jalur masuk. Sesi ini menjadi salah satu yang paling ramai sepanjang perjalanan kami. Obrolan tumbuh di banyak sudut, dan rasanya selalu ada cerita lain yang ingin didengar.
Tempat bertemu, tempat banyak hal dimulai
Kami berkumpul di Joglo GIK, bagian dari Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM. Tempat ini memang mengundang orang untuk berhenti sejenak dan melihat sekeliling. GIK dirancang sebagai ruang yang mempertemukan kegiatan mahasiswa, seni, budaya, riset, dan inovasi. Di dalamnya ada ruang kelas, area kegiatan, joglo, hingga botanical rooftop garden.
Namun, yang paling kami ingat dari malam itu bukan ukuran bangunannya. Yang tinggal justru suasananya: melihat SkulChamps saling berkenalan, bertukar cerita kuliah, lalu kembali mengingat masa ketika mereka masih berusaha masuk kampus impian.
Kak Eldo sudah lulus dari UGM delapan tahun lalu. Malam itu, ketika duduk bersama adik-adik dari Psikologi UGM, ia bilang rasanya seperti pulang ke rumah. Dulu ia berada di posisi mereka. Sekarang ia kembali dan mendengar cerita generasi setelahnya.
Ada sesuatu yang menghangatkan dari perubahan kecil itu. Waktu berjalan, orang-orang berganti, tetapi sebuah tempat masih bisa mengingatkan kita pada alasan kita memulai.
UGM pun punya cara sendiri untuk mengingat asalnya
Perasaan “pulang” ternyata dekat dengan sejarah UGM. Pada masa awalnya, kegiatan perkuliahan berlangsung di lingkungan Keraton Yogyakarta, termasuk Pagelaran dan Sitihinggil. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyediakan tempat untuk belajar, sementara pembangunan kampus UGM di Bulaksumur mulai dilakukan pada 1951.
Jejak itu masih dikenang melalui Nitilaku, pawai budaya yang menelusuri perjalanan dari Keraton Yogyakarta menuju kampus UGM di Bulaksumur. Tradisi ini mengajak warga UGM mengingat tempat dan orang-orang yang ikut memungkinkan kampus tersebut bertumbuh.
Mendengar sejarah itu setelah bertemu SkulChamps membuat kami memikirkan perjalanan mereka dengan cara yang berbeda. Sebelum menjadi mahasiswa UGM, mereka juga punya titik mula masing-masing. Ada yang memulai dengan target yang sudah jelas. Ada yang masih mencari jurusan dan cara belajar yang cocok. Ada pula yang harus mencoba lagi ketika rencana pertama belum berhasil.
Kini mereka bisa menceritakannya sambil duduk bersama di kampus yang dulu ingin mereka tuju. Tetapi perjalanan itu pernah terasa panjang saat masih dijalani.
Kalau UGM adalah tujuanmu, perjalananmu dimulai dari tempatmu sekarang
Mungkin kamu membaca cerita ini sambil membayangkan dirimu kuliah di UGM. Kamu bisa melihat kampusnya dalam foto, mengenal nama fakultasnya, bahkan membayangkan suatu hari berkumpul di sana bersama teman-teman baru.
Bayangan itu bisa jadi alasan yang kuat untuk belajar. Namun ketika persiapan terasa berat, cobalah membuat tujuan tersebut lebih dekat dan lebih nyata. Cari tahu jurusan yang ingin kamu tuju. Kenali materi yang masih membuatmu kesulitan. Kerjakan latihan, lalu luangkan waktu untuk memahami kesalahanmu.
Kamu tidak perlu memiliki cerita persiapan yang sempurna. SkulChamps yang kami temui pun sampai di UGM melalui jalur dan pengalaman yang berbeda-beda. Yang bisa kamu lakukan hari ini adalah memberi dirimu kesempatan: mulai dari satu hal yang perlu dipelajari, lalu lanjutkan lagi besok.
Bagi Skuling, kembali ke Jogja mengingatkan kami pada awal perjalanan kami sendiri. Bagi kamu, mungkin UGM adalah tempat yang ingin kamu capai. Kami harap suatu hari nanti kamu juga bisa menoleh ke belakang dan berkata, “Ternyata aku sudah sejauh ini.”
Siapa tahu, saat kami pulang ke Jogja lagi, kamu menjadi salah satu SkulChamps yang menyambut kami di UGM—dan giliranmu menceritakan bagaimana semuanya dimulai.
SkulChamps, janji ya ketemu di UGM? 💛














