Kami baru tahu ada wisuda ketika tiba di lapangan rektorat UB. Di sekitar kami, para lulusan mengenakan toga dan membawa buket bunga. Keluarga bergantian mengambil foto, mencari tempat yang pas, lalu memanggil anggota keluarga lain untuk ikut masuk ke dalam bingkai.
Di tengah keramaian itu, kami duduk bersama SkulChamps. Obrolan kami justru kembali ke masa sebelum mereka menjadi mahasiswa: memilih jalur masuk, menyiapkan UTBK, dan menunggu hasil seleksi.
Beberapa meter dari tempat kami duduk, ada orang-orang yang sedang merayakan kelulusan kuliah. Perbedaan waktunya mungkin beberapa tahun. Siang itu, kedua ceritanya bertemu di satu lapangan.
Setiap orang sampai di UB melalui jalan yang berbeda
Ada SkulChamps yang diterima lewat SNBP. Ada yang berjuang melalui UTBK. Ada pula yang perlu menunggu satu tahun sebelum akhirnya bisa kuliah di kampus yang ia tuju.
Ketika mereka sudah duduk bersama sebagai mahasiswa UB, perjalanan itu mudah terlihat sebagai cerita yang selesai. Padahal, saat masih menjalaninya, masing-masing tentu menghadapi pertanyaan yang belum terjawab: apakah pilihan jurusannya tepat, apakah hasil belajarnya cukup, dan apa yang perlu dilakukan jika rencana pertama belum berhasil.
Cerita mereka membuat kami memandang para wisudawan di sekitar lapangan dengan cara berbeda. Sebelum memakai toga, mereka juga pernah menjadi mahasiswa baru. Sebelum menjadi mahasiswa baru, mereka pernah menjadi siswa yang sedang mencari jalan masuk.
Sedikit cerita tentang kampus yang mereka perjuangkan
Universitas Brawijaya resmi menjadi perguruan tinggi negeri pada 5 Januari 1963. Namanya sendiri diberikan oleh Presiden Soekarno pada 1961, ketika perguruan tinggi ini masih berada dalam masa awal perkembangannya.
Fakta itu terasa menarik untuk diingat saat melihat lapangan rektorat penuh keluarga wisudawan. Kampus yang telah bertumbuh selama puluhan tahun ini terus menjadi tempat datangnya mahasiswa baru, lalu melepas mereka ketika masa kuliahnya selesai. Hari itu, kami menyaksikan satu momen pelepasan sambil mendengar cerita orang-orang yang baru memulai perjalanan mereka di sini.
Ada pula kebiasaan kecil yang membuat reuni terasa akrab: beberapa SkulChamps menyapa dengan fist bump. Kami yang semula refleks mengulurkan tangan akhirnya ikut melakukannya. Di tengah ramainya wisuda, sapaan sesederhana itu membuat obrolan terasa santai.
Saat ini mungkin kamu masih di bagian awal cerita
Melihat wisuda dari dekat membuat masa kuliah terasa lebih nyata. Ada hari pertama datang ke kampus, ada teman dan mata kuliah yang belum dikenal, dan beberapa tahun kemudian mungkin ada keluarga yang menunggu untuk berfoto bersama.
Namun, untuk sampai ke hari pertama itu, kamu perlu menjalani proses yang ada di hadapanmu sekarang.
Kalau UB adalah kampus impianmu, cari tahu jurusan dan jalur masuk yang sesuai. Mulai ukur kemampuanmu lewat latihan, lalu pelajari kembali soal yang belum bisa kamu jawab. Jika hasilmu belum seperti yang diharapkan, gunakan itu untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki pada sesi belajar berikutnya.
Kamu tidak perlu tahu hari ini bagaimana seluruh ceritamu akan berakhir. SkulChamps yang kami temui pun dulu belajar tanpa bisa melihat hasil akhirnya. Sekarang mereka bisa duduk di kampus yang pernah mereka perjuangkan, berbagi cerita sambil menyaksikan kakak-kakak tingkat mereka diwisuda.
Siapa tahu, saat kami kembali ke UB, giliran kamu yang duduk bersama kami di lapangan itu. Dan beberapa tahun setelahnya, giliran keluargamu yang sibuk mencari sudut terbaik untuk memotretmu dengan toga.
SkulChamps, janji ya ketemu di UB? 💙











