Hal pertama yang menarik perhatian kami adalah warna jaket almamaternya. Biru muda cerah, mudah dikenali di antara keramaian kampus.
Sejak awal perjalanan, kami telah melihat SkulChamps mengenakan almamater dengan warna yang berbeda-beda. Di Solo, warna biru muda itu mengingatkan kami pada satu hal: setiap jaket yang sekarang mereka pakai pernah menjadi sesuatu yang hanya bisa mereka bayangkan.
Hari itu kami berkumpul di sekitar Danau UNS, dekat Fakultas Pertanian. Mahasiswa dari Teknik dan Sekolah Vokasi ikut datang. Ada SkulChamps angkatan 2025, ada juga yang pernah mengambil gap year sebelum akhirnya kuliah. Percakapan berlangsung santai, lalu kami menutupnya dengan makan bersama.
Sebagai pertemuan terakhir, rasanya tepat sekali bisa duduk lebih lama dan mendengarkan mereka.
Solo pernah menunggu kampus ini selama puluhan tahun
UNS resmi berdiri sebagai perguruan tinggi negeri pada 11 Maret 1976. Namun, keinginan menghadirkan universitas negeri di Solo sudah muncul sejak 1950-an. Perjalanannya tersendat oleh berbagai keadaan pada masa itu, termasuk persoalan politik dan ekonomi, sebelum akhirnya terwujud melalui penyatuan sejumlah perguruan tinggi di Surakarta.
Sejarah itu terasa dekat dengan beberapa cerita yang kami dengar sepanjang reuni. Ada siswa yang diterima melalui jalur yang sejak awal ia rencanakan. Ada yang harus mengganti rencana. Ada pula yang perlu memberi dirinya satu tahun lagi untuk mempersiapkan diri.
Tentu, menunggu berdirinya sebuah universitas berbeda dari menunggu kesempatan masuk kuliah. Tetapi keduanya mengingatkan kami bahwa perjalanan menuju sesuatu yang berarti tidak selalu mengikuti waktu yang kita bayangkan.
Kalau tahun ini kamu belum sampai di kampus tujuan, rasa kecewanya nyata. Kamu boleh mengakuinya. Lalu, ketika sudah siap, lihat kembali pilihan dan langkah yang masih terbuka. Hasil satu tahun tidak harus menjadi akhir dari seluruh ceritamu.
Dari satu kampus ke kampus lain, kami bertemu lebih dari sekadar cerita kelulusan
Kami memulai perjalanan ini dengan rasa ingin tahu: bagaimana kabar SkulChamps setelah masuk kuliah?
Jawabannya ternyata jauh lebih luas daripada nama kampus atau jalur masuk mereka. Di IPB, kami mendengar cerita tentang jurusan yang sebelumnya belum pernah kami kenal. Di ITB, obrolan berlanjut sampai malam di tepi danau. Di UB, kami berbicara tentang awal perjuangan sementara para wisudawan merayakan akhir masa kuliahnya. Di UNS, kami bertemu mereka yang sampai melalui waktu persiapan berbeda-beda.
Kami juga mendengar pertanyaan mereka tentang kehidupan setelah kuliah: jurusan yang dipilih, kegiatan yang ingin dicoba, dan masa depan yang masih mereka cari bentuknya. Mereka telah mencapai salah satu impian mereka, lalu mulai menyiapkan impian berikutnya.
Melihat mereka sekarang, kami teringat siswa-siswa yang dulu sedang belajar bersama Skuling. Dulu kami berharap bisa membantu mereka melangkah lebih dekat ke kampus tujuan. Dalam perjalanan ini, mereka menyambut kami di sana.
Terima kasih sudah menemani perjalanan ini, SkulChamps
Terima kasih untuk setiap cerita yang kalian bagikan—termasuk bagian yang sulit. Untuk pertanyaan yang membuat obrolan bertambah panjang, tawa yang muncul di tengahnya, dan waktu yang kalian luangkan untuk bertemu lagi.
Perjalanan reuni kami tahun ini selesai di Solo. Namun, mungkin kamu yang membaca ini masih berada di awal perjalananmu sendiri. Kamu sedang memilih jurusan, belajar untuk ujian, mencoba lagi setelah hasil yang mengecewakan, atau baru memberanikan diri membayangkan sebuah kampus sebagai tujuan.
Kami harap cerita para SkulChamps membuat tujuan itu terasa sedikit lebih dekat. Cari tahu jalan masuknya. Mulai dari materi yang perlu kamu kuasai. Temukan orang-orang yang bisa diajak belajar dan bertanya. Lalu terus beri dirimu kesempatan untuk maju.
Siapa tahu, di Skuling Reunion Journey berikutnya, kamu yang kami temui dengan jaket almamater impianmu. Kami akan duduk bersama dan mendengar ceritamu dari awal.
SkulChamps, janji ya ketemu di kampus impianmu? 🩵











