Kali ini kami memilih tempat bertemu di luar kampus. Begitu SkulChamps datang, perkenalan segera berubah menjadi obrolan: jurusan apa, angkatan berapa, bagaimana kabarnya setelah masuk kuliah. Ada teman dari UGM yang ikut bergabung juga. Tidak perlu menunggu lama sampai suasananya terasa seperti kumpul teman lama.
Kami datang untuk mendengar perjalanan mereka masuk perguruan tinggi. Namun, berbicara dengan SkulChamps dari UNY membawa pikiran kami lebih jauh: beberapa dari mereka suatu hari mungkin akan berdiri di depan kelas, membimbing siswa yang sekarang masih duduk di bangku sekolah—siswa yang punya mimpi sebesar mereka dulu.
Dari ruang kuliah ke ruang kelas orang lain
UNY punya akar yang kuat dalam pendidikan. Jejak sejarahnya terkait dengan Fakultas Pedagogik UGM, lalu berkembang menjadi IKIP Yogyakarta yang diresmikan pada 21 Mei 1964. Pada 1999, IKIP Yogyakarta bertransformasi menjadi Universitas Negeri Yogyakarta dengan cakupan bidang studi yang lebih luas. Kini UNY juga memiliki program di luar bidang keguruan, termasuk pendidikan vokasi.
Sejarah itu terasa menarik ketika dipikirkan dari sudut pandang siswa yang sedang memilih kampus. Belajar di UNY bisa berarti menyiapkan diri menjadi guru, menekuni sebuah bidang ilmu, atau mengembangkan keterampilan terapan. Bagi yang ingin menjadi pendidik, ada kemungkinan yang istimewa: pengetahuan yang dipelajari tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Coba ingat satu guru yang pernah membuatmu akhirnya paham materi yang semula terasa mustahil. Atau guru yang melihat kemampuanmu saat kamu sendiri masih ragu. Pengaruhnya mungkin berawal dari satu percakapan singkat, tetapi bisa kamu bawa bertahun-tahun.
Membayangkan SkulChamps suatu hari menjadi sosok seperti itu bagi murid-muridnya membuat pertemuan sore kami terasa lebih bermakna.
Kamu boleh belum tahu akan menjadi siapa
Saat sedang mempersiapkan ujian masuk kuliah, pertanyaan “mau jadi apa?” kadang terasa terlalu besar. Kamu mungkin tahu ingin masuk UNY, tetapi masih menimbang jurusan. Atau sudah punya pilihan jurusan, tetapi belum bisa membayangkan pekerjaanmu nanti.
Tidak apa-apa jika jawabannya belum lengkap. Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah mengenali apa yang membuatmu ingin belajar lebih jauh. Apakah kamu senang menjelaskan sesuatu sampai orang lain paham? Suka memecahkan masalah teknis? Tertarik pada anak-anak, bahasa, olahraga, seni, atau cara manusia belajar?
Pertanyaan seperti itu membantumu melihat jurusan sebagai kegiatan yang akan kamu jalani, bukan sekadar nama yang kamu tulis di formulir pendaftaran. Cari tahu mata kuliahnya. Tanya mahasiswa yang sedang menjalaninya. Lalu periksa apakah kamu tertarik pada proses belajarnya, termasuk bagian yang sulit.
Giliranmu untuk sampai, lalu membantu orang lain melangkah
Dulu, SkulChamps yang kami temui sore itu juga sedang mencari jalan menuju kampusnya. Mereka perlu memilih, belajar, mengikuti seleksi, dan menunggu hasilnya. Sekarang mereka punya cerita yang bisa dibagikan kepada adik-adik yang berada di posisi serupa.
Di situlah perjalanan ini terasa berlanjut. Seseorang dibantu untuk belajar, lalu tumbuh menjadi orang yang bisa membantu berikutnya. Bentuknya bisa berbeda-beda: menjadi guru, berbagi informasi jalur masuk, menemani teman berlatih soal, atau sekadar bercerita jujur tentang pengalaman kuliah.
Kalau UNY adalah kampus tujuanmu, mulai persiapkan langkahmu hari ini. Kenali jurusan yang ingin kamu tuju, pelajari materi yang belum kamu kuasai, dan temukan orang yang bisa diajak bertanya. Kamu sedang memperjuangkan kesempatan untuk belajar. Suatu hari, apa yang kamu pelajari mungkin juga berarti bagi banyak orang lain.
Siapa tahu, di Skuling Reunion Journey berikutnya, kamu yang datang dan bercerita tentang hari pertamamu sebagai mahasiswa UNY.
SkulChamps, janji ya ketemu di UNY? 💙











