Kali ini kami bertemu di luar kampus, di tempat yang mudah dijangkau. SkulChamps datang, saling menyapa, menanyakan jurusan dan angkatan, lalu segera terlibat dalam obrolan. Ada mahasiswa dari kampus lain yang ikut bergabung, tetapi sore itu kami ingin mendengar lebih dekat cerita teman-teman yang kini mengenakan almamater hijau UPN “Veteran” Yogyakarta.
Kami datang dengan pertanyaan yang biasa muncul dalam reuni: bagaimana mereka dulu mempersiapkan diri, memilih jurusan, dan akhirnya diterima? Semakin lama berbincang, kami justru memikirkan sesuatu yang tidak berhenti pada hari pengumuman kelulusan.
Kampus yang didirikan oleh para pejuang
UPN “Veteran” Yogyakarta bermula dari Akademi Pembangunan Nasional “Veteran”, yang didirikan pada 1958 atas prakarsa para pejuang kemerdekaan. Tiga bidang awalnya adalah Geologi Pertambangan, Ekonomi Pertanian, dan Teknologi Perusahaan. Ketiganya berbicara tentang pekerjaan besar yang perlu dilakukan setelah kemerdekaan: memahami sumber daya, mengembangkan pertanian, dan membangun kemampuan ekonomi.
Ada hal menarik lain dalam perjalanan kampus ini. UPN “Veteran” Yogyakarta pernah berstatus perguruan tinggi kedinasan, kemudian perguruan tinggi swasta, dan sejak 2014 kembali menjadi perguruan tinggi negeri. Nama dan bentuk kelembagaannya berkembang, sementara hubungan dengan nilai perjuangan para pendirinya tetap menjadi bagian dari identitas kampus.
Karena itu, julukan Kampus Bela Negara terasa memiliki cerita yang panjang. Di sini, bela negara dapat dibayangkan melalui pekerjaan yang kelak ditekuni mahasiswanya: meneliti bumi, mengelola lingkungan, membantu pertanian, membangun teknologi, atau menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. UPN sendiri mengaitkan identitas bela negara dengan pendidikan, riset, dan pengabdian.
Apa arti “Widya Mwat Yasa” buat calon mahasiswa?
Di lambang UPN “Veteran” Yogyakarta tertulis Widya Mwat Yasa. Kampus menjelaskannya sebagai semangat untuk mengabdikan ilmu bagi kemajuan bangsa.
Kalimat itu membuat kami berpikir tentang cara memilih jurusan. Saat masih SMA, pertanyaan pertama kita sering kali, “Aku bisa lolos di mana?” Itu pertanyaan yang wajar. Namun, ada pertanyaan kedua yang juga menarik untuk dicari jawabannya: “Masalah apa yang ingin aku pahami dan bantu selesaikan?”
Di UPN “Veteran” Yogyakarta, pilihannya tidak terbatas pada bidang kebumian yang lekat dengan sejarah kampus. Daftar penerimaan mahasiswanya juga mencakup bidang pertanian, ekonomi dan bisnis, serta bidang studi lainnya.
Kamu tidak harus sudah punya misi hidup yang terdengar besar sebelum mendaftar. Rasa penasaran pada satu bidang saja bisa menjadi awal. Mungkin kamu ingin tahu bagaimana air dan tanah dikelola. Mungkin kamu tertarik pada cara sebuah usaha berkembang, atau bagaimana teknologi membantu orang bekerja. Semakin kamu mengenali apa yang dipelajari di jurusan pilihanmu, semakin jelas alasanmu untuk memperjuangkannya.
Perjuanganmu punya babak berikutnya
SkulChamps yang kami temui sore itu pernah berada di posisi calon mahasiswa: mencari informasi, menyiapkan ujian, dan berharap hasilnya sesuai rencana. Sekarang mereka sudah sampai di kampus yang dulu dituju. Mereka bisa mulai bertanya, mencoba, dan menentukan bagaimana ilmu yang dipelajari akan digunakan.
Itulah yang paling membekas dari pertemuan ini. Perjuangan masuk kuliah punya tujuan yang nyata, tetapi kelulusan seleksi juga membuka kesempatan untuk melakukan sesuatu setelahnya.
Kalau UPN “Veteran” Yogyakarta adalah kampus impianmu, mulailah dengan mengenali jurusannya. Cari tahu apa yang akan kamu pelajari, bagaimana jalur masuknya, lalu perkuat persiapanmu sedikit demi sedikit. Saat lelah, ingat kembali alasan yang membuatmu tertarik pada bidang itu.
Siapa tahu, dalam Skuling Reunion Journey berikutnya, kamu datang mengenakan almamater hijau. Kami ingin mendengar ceritamu: bagaimana kamu sampai di UPN, dan hal apa yang ingin kamu bangun dari sana.
SkulChamps, janji ya ketemu di UPN “Veteran” Yogyakarta? 💚











